Ananda Sebut Minim Kontrol Emosi dan Empati Jadi Akar Perundungan di Kalangan Remaja
Wakil Ketua DPRD Kalimantan Timur (Kaltim), Ananda
Emira Moeis
POSKOTAKALTIMNEWS, SAMARINDA: Maraknya kasus kekerasan dan perundungan di kalangan pelajar tidak bisa lagi dipandang sebagai perilaku menyimpang yang bersifat sementara. Wakil Ketua DPRD Kalimantan Timur (Kaltim), Ananda Emira Moeis, menyebut fenomena tersebut sebagai refleksi dari kegagalan kolektif dalam membentuk generasi yang memiliki empati dan kendali emosi.
Menurut Ananda, berbagai
insiden kekerasan di lingkungan sekolah harus dilihat secara lebih dalam, bukan
hanya ditangani secara reaktif. Ia menilai bahwa persoalan ini lahir dari
minimnya perhatian terhadap aspek pembangunan karakter anak sejak usia dini,
baik di rumah, sekolah, maupun lingkungan sosial.
“Kita seringkali sibuk
menangani akibatnya, tapi lupa membenahi akar masalahnya. Perundungan itu
muncul karena anak tidak diajarkan sejak awal untuk memahami perasaan orang
lain, atau untuk mengelola emosinya dengan sehat,” ujar Ananda, Sabtu
(17/5/2025).
Ia menegaskan bahwa pola
pendidikan yang terlalu fokus pada aspek akademik, tanpa diimbangi pembinaan
emosional dan nilai kemanusiaan, telah menciptakan celah bagi tumbuhnya
perilaku agresif. Anak-anak yang tidak mendapatkan bimbingan emosional
berpotensi menyalurkan frustrasi atau rasa tidak aman mereka melalui kekerasan
terhadap sesama.
Ananda menambahkan, jika
masalah ini terus diabaikan, maka masyarakat hanya akan menyaksikan kekerasan
sebagai fenomena yang terus berulang lintas generasi.
Ia menyebut perlunya
kesadaran kolektif bahwa pembentukan karakter bukan tugas satu pihak saja,
melainkan tanggung jawab bersama antara keluarga, sekolah, dan komunitas.
“Kita sedang kehilangan
generasi yang bisa merasakan sakit orang lain. Kalau itu tidak segera kita
pulihkan, kita akan terus menghadapi anak-anak yang tumbuh tanpa kendali, tanpa
empati, dan akhirnya menyakiti satu sama lain,” tegasnya.
Untuk itu, ia menyerukan
perlunya langkah serius yang menyentuh akar persoalanbukan sekadar menambal
dampak di permukaan. Ia juga mendorong agar program pendidikan ke depan lebih
memberi ruang besar bagi pendidikan emosional dan moral, agar anak tidak hanya
cerdas secara akademik, tetapi juga secara sosial dan emosional. (ADV/DPRD
KALTIM)